yantisupri

Just another WordPress.com site

Sastra Melayu Klasik

leave a comment »

A. STANDAR KOMPETENSI       :

15. Memahami sastra Melayu klasik

B. KOMPETENSI DASAR

15.1   Mengidentifikasi karakteristik dan struktur unsur intrinsik sastra Melayu klasik

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Siswa dapat mengidentifikasi karakteristik karya sastra Melayu klasik
  2. Siswa dapat menentukan struktur (unsur) karya sastra Melayu klasik
  3. Siswa dapat menuliskan secara ringkas isi karya sastra Melayu klasik dengan bahasa sendiri ke dalam beberapa paragraf

D. MATERI PEMBELAJARAN

Karya sastra Melayu klasik

Ciri-ciridari karya sastra Melayu klasik :

ü  menggunakan bahasa Melayu klasik

ü  menghubungkan cerita dengan kejadian alam atau tempat,

ü  berkisah tentang kerajaan (istana sentris)

Selain ciri-ciri karya sastra Melayu klasik tersebut, juga terdapat unsur-unsur intrinsik.

Unsur-unsur intrinsik karya sastra Melayu klasik hampir sama

dengan karya sastra prosa lainnya, seperti tema alur, latar, penokohan,

dan amanat.

  1. Tema adalah dasar cerita sebagai titik tolak dalam penyusunan cerita.
  2. Alur atau plot adalah struktur penceritaan yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian atau peristiwa yang disusun berdasarkan hukumnsebab akibat serta logis. Alur tersebut ada yang berupa alur maju, alur mundur, atau alur campuran.
  3. Penokohan adalah pelukisan atau pendeskripsian atau pewatakan tokoh-tokoh dalam cerita.
  4. Latar atau setting merupakan tempat, waktu, dan keadaan terjadinya suatu peristiwa.
  5. Amanat adalah pesan-pesan yang ingin disampaikan dalam cerita.

Karya sastra Melayu klasik menggunakan bahasa Melayu klasik dapat dituliskankembali karya sastra Melayu klasik tersebut dengan menggunakan bahasa sendiri. Untuk dapat melakukannnya, harus memahami isinya, baru ceritakan tanpa harus terpaku pada bahasa asli karya sastra tersebut. Oleh karena itulah, perlu membaca karya tersebut

dengan saksama.

ayu klasik dengan bahasa sendiri ke dalam beberapa paragraf

  1. Kegiatan Akhir
    1. Guru memberikan penguatan pemahaman dan apresiasi isi karya sastra Melayu klasik
    2. Salam Penutup

G. Sumber Belajar

-          Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X BSE

-          Buku LKS Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X

-          Contoh karya sastra Melayu klasik (Hikayat Patani)


 

LEMBAR KERJA

 

Bacalah karya Melayu klasik berikut.

Hikayat Patani

Bismillahirrahmanirrahiim. Wabihi nastainu,biIlahi al a’la.

Inilah suatu kisah yang diceritakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu.

Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa.

Selama Paya Tu Naqpa kerajaan itu sentiasa ia pergi berburu. Pada suatu hari Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawai hulubalang dan rakyat sekalian. Arkian maka titah baginda: “Aku dengar khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu banyak konon.”

Maka sembah segala menteri: “Daulat Tuanku,sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga.”

Maka titah Paya Tu Naqpa: “Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu.”

Maka sembah segala menteri hulubalangnya:”Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang Mahamulia patik junjung.”

Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. Setelah sampai pada tempat berburu itu, maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemahpun didirikan oranglah. Maka baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam didalam kemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat sekalian. Maka baginda pun menitahkan orang pergi melihat bekas rusa itu. Hatta setelah orang itu datang menghadap baginda maka sembahnya: “Daulat Tuanku, pada hutan sebelah tepi laut ini terlalu banyak bekasnya.”

Maka titah baginda: “Baiklah esok pagi-pagi kita berburu”

Maka setelah keesokan harinya maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyatpun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuan baginda sendiri itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. Maka baginda pun segera mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda datang kepada suatu serokan tasik itu, maka baginda pun bertemulah dengan segala orang yang menurut anjing itu. Maka titah baginda:”Apa yang disalak oleh anjing itu?”

Maka sembah mereka sekalian itu: “Daulat Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. Itulah yang dihambat oleh anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah pada pantai ini.”

Setelah baginda mendengar sembah orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada tempat itu. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat. Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua itu, dari mana datangnya maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya.

Maka hamba raja itu pun menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka sembah orang tua itu: “Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawah Duli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka pada masa Paduka Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun dikerah orang pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah Paduka Nenda sampai kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka patik pun ditinggalkan oranglah pada tempat ini.”

Maka titah baginda: “Apa nama engkau?”

Maka sembah orang tua itu: “Nama patik Encik Tani.”

Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda pun kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan segala menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih itu. Setelah keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang mudik ke Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat negeri itu. Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda masing-masing dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota Maligai.

Hatta antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka baginda pun pindah hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu pun dinamakannya Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). Arkian pangkalan yang di tempat pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu Gajah ke hulu Jambatan Kedi, (itulah.Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani naik turun merawa dan menjerat itu. Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri itu mengikut nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu mengikut sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.

Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam

 

 

 

 

 

1. Identifikasilah karakteristik atau ciri-ciri karya sastra Melayu klasik “Hikayat Patani”.

2. Tentukan unsur intrinsik karya sastra Melayu klasik tersebut.

3. Tuliskan secara ringkas isi karya sastra Melayu klasik tadi dengan

bahasa sendiri ke dalam beberapa paragraf.

Penilaian Identifikasi Karya Sastra Melayu Klasik

 

Hal yang diamati

Penilaian (1 – 10)

  1. Analisis unsur intrinsik
 
  1. Analisis unsur ekstrinsik
 
  1. Pengamatan terhadap nilai didaktik
 
  1. Kelengkapan data pengamatan
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                       : SMA 3

Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia

Kelas/ Semester           : X/ 2

Alokasi Waktu            : 4 X 45 menit

A. STANDAR KOMPETENSI       :

15. Memahami sastra Melayu klasik

B. KOMPETENSI DASAR

15.2            Menemukan  nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik

C. TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Siswa dapat menemukan nilai-nilai dalam karya sastra Melayu Klasik
  2. Siswa dapat membandingkan nilai-nilai dalam sastra Melayu Klasik dengan nilai-nilai masa kini
  3. Siswa dapat mengartikan kata-kata sulit
  4. Siswa dapat menemukan  nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik

D. MATERI PEMBELAJARAN

Naskah sastra Melayu klasik

  • nilai-nilai (budaya, moral, agama)

Setelah membaca karya sastra Melayu klasik tersebut, kita dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kita dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat

tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik dan unsur-unsur

intrinsik yang telah kita identifikasi sebelumnya. Nilai-nilai yang dapat ditemukan dalam karya sastra Melayu klasik dapat berupa nilai budaya, moral, dan agama. Nilai budaya yang dapat kita temukan dari karya sastra Melayu klasik pasti berhubungan dengan budaya Melayu. Begitu juga nilai moral pasti dipengaruhi adat yang berlaku di suku Melayu. Adapun nilai agama akan dipengaruhi agama Islam yang dianut sebagian besar bangsa Melayu. Nilai-nilai tersebut dapat ditemukan apabila kita membaca dan memahami karya sastra Melayu klasik tersebut.

E. METODE

Ceramah, tanya jawab, demonstrasi, diskusi

F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Tatap Muka

. Pendahuluan

a   Persiapan         : salam dan absensi

b. Apersepsi         : menyampaikan tujuan pembelajaran                                                        c.Guru menyiapkan karya sastra Melayu klasik pilihan (misal : Hikayat Pat                      d.Guru menyampaikan orientasi tentang nilai-nilai karya sastra

e.  Siswa membaca dalam karya sastra Melayu Klasik yang telah diberikan guru

Tugas Terstruktur

  1. Siswa menemukan  nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra Melayu klasik

b. Siswa membandingkan nilai-nlai dalam karya sastra Melayu Klasik

c.  Siswa \mengartikan kata-kata sulit

Tugas Mandiri

a.Guru memberikan tugas kelompok untuk mecari nilai-nilai yang ada dalam karya sastra     Melayu Klasik yang telah dbaca

b.Salam Penutup

Pertemuan Kedua

 

Tatap Muka

1. Pendahuluan

  1. Persiapan         : salam dan absensi
  2. Apersepsi        : penguatan pemahaman dan apresiasi isi karya sastra Melayu Klasik

Tugas Terstruktur

  1. Siswa mendiskusikan dalam kelompok nilai-nilai dalam karya sastra Melayu Klasik yang telah diberikan guru
    1. Siswa membandingkan nilai-nilai dalam sastra Melayu klasik dengan nilai-nilai masa kini

Tugas Mandiri

  1. Guru memberikan penguatan apresiasi nilai-nilai karya sastra Melayu klasik
  2. Salam Penutup

G. SUMBER BELAJAR

-          Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X terbitan Erlangga

-          Buku LKS Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X

-          Contoh karya sastra Melayu klasik

G. Sumber Belajar

-          Buku Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X BSE

-          Buku LKS Bahasa Indonesia untuk SMA Kelas X

-          Contoh karya sastra Melayu klasik (Hikayat Patani)

H. Penilaian

Indikator

Penilaian

Instrumen

Teknik

Bentuk Instrumen

  • Menemukan nilai
Tertulis Uraian bebas terlampir
  • Membandingkan nilai
Tertulis Uraian bebas terlampir
  • Mengartikan kata
Tertulis Uraian bebas terlampir

 

Rembang, 17 Juli  2010

Mengetahui,

Kepala Sekolah                                             Guru MaPel      Bhs.Indonesia

Drs. Suhartono                                                            Supriyanti, S.Pd

NIP 130679059                                                          NIP 132199134

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KERJA

 

Bacalah karya Melayu klasik berikut.

Hikayat Patani

Bismillahirrahmanirrahiim. Wabihi nastainu,biIlahi al a’la.

Inilah suatu kisah yang diceritakan oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu.

Adapun raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah. Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu. Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa.

Selama Paya Tu Naqpa kerajaan itu sentiasa ia pergi berburu. Pada suatu hari Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap oleh segala menteri pegawai hulubalang dan rakyat sekalian. Arkian maka titah baginda: “Aku dengar khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu banyak konon.”

Maka sembah segala menteri: “Daulat Tuanku,sungguhlah seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga.”

Maka titah Paya Tu Naqpa: “Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu.”

Maka sembah segala menteri hulubalangnya:”Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang Mahamulia patik junjung.

Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya, maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan oleh rakyat sekalian. Setelah sampai pada tempat berburu itu, maka sekalian rakyat pun berhentilah dan kemahpun didirikan oranglah. Maka baginda pun turunlah dari atas gajahnya semayam didalam kemah dihadap oleh segala menteri hulubalang rakyat sekalian. Maka baginda pun menitahkan orang pergi melihat bekas rusa itu. Hatta setelah orang itu datang menghadap baginda maka sembahnya: “Daulat Tuanku, pada hutan sebelah tepi laut ini terlalu banyak bekasnya.”

Maka titah baginda: “Baiklah esok pagi-pagi kita berburu”

Maka setelah keesokan harinya maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyatpun masuklah ke dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuan baginda sendiri itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. Hatta ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. Maka baginda pun segera mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda datang kepada suatu serokan tasik itu, maka baginda pun bertemulah dengan segala orang yang menurut anjing itu. Maka titah baginda:”Apa yang disalak oleh anjing itu?”

Maka sembah mereka sekalian itu: “Daulat Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang gemilang. Itulah yang dihambat oleh anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah pada pantai ini.”

Setelah baginda mendengar sembah orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada tempat itu. Maka baginda pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat. Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua itu, dari mana datangnya maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya.

Maka hamba raja itu pun menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka sembah orang tua itu: “Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawah Duli Yang Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka pada masa Paduka Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun dikerah orang pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah Paduka Nenda sampai kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka patik pun ditinggalkan oranglah pada tempat ini.”

Maka titah baginda: “Apa nama engkau?”

Maka sembah orang tua itu: “Nama patik Encik Tani.”

Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda pun kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan segala menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih itu. Setelah keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang mudik ke Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat negeri itu. Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda masing-masing dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota Maligai.

Hatta antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka baginda pun pindah hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu pun dinamakannya Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). Arkian pangkalan yang di tempat pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu Gajah ke hulu Jambatan Kedi, (itulah.Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani naik turun merawa dan menjerat itu. Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri itu mengikut nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu mengikut sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.

 

 

Sumber: Hikayat Seribu Satu Malam

Diskusikanlah hasilnya dengan teman-teman Anda.

  1. Temukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Melayu klasik tersebut.
  2. Bandingkan nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra Melayu klasik tersebut dengan nilai-nilai masa kini.
  3. Temukan kata-kata sulit dari karya sastra Melayu klasik tersebut dan artikan. Anda dapat menggunakan kamus.

Penilaian Analisis Hikayat Patani

Hal yang dinilai

Penilaian

Rentang Nilai

Nilai

Nilai dalam Hikayat Patani

0 – 2

Analisis terhadap nilai-nilai masa kini

0 – 4

Perbandingan nilai-nilai

0 – 4

Jumlah Total

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Written by yantisupri

Mei 26, 2011 pada 4:27 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: